Search :
Tubiyono
Club Bahasa Indonesia

Nilai Keagamaan Dalam Novel Para Priyayi Karya Umar Kayam

NILAI KEAGAMAAN DALAM NOVEL
PARA PRIYAYI KARYA UMAR KAYAM

Oleh Tubiyono

 

Abstrak
Makalah singkat ini mendeskripsikan praktik keberagamaan masyarakat Jawa yang termanifestasi dalam persepsi Umar Kayam melalui novelnya sebagai intrumen. Sebagian besar masyarakat Jawa menganut agama Islam termasuk Islam abangan yang tidak terlalu terikat oleh ritual upacara keagamaan dan keislamannya dapat dikategorikan Islam KTP atau pernyataan resmi yang bersifat simbolis. Tetapi, jiwa tetap terikat erat dengan Islam. Hal ini tercermin dalam aktivitas kehidupan sehari-hari, misalnya dalam penamaan dan penentuan pemilihan jodoh dalam perkawinan.

Read more...

PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM MENGAKTUALISASIKAN LAGU DAERAH SEBAGAI ALTERNATIF PEMERTAHANAN BAHASA IBU

PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM MENGAKTUALISASIKAN LAGU DAERAH SEBAGAI ALTERNATIF PEMERTAHANAN BAHASA IBU

Oleh Tubiyono

 

Abstrak

Dalam makalah ini akan dibahas upaya pemertahanan bahasa (linguistic manintenance) ibu dari proses kematian atau bahkan kepunahan bahasa. Pemertahanan bahasa ibu pada dasarnya banyak komponen yang terkait, tetapi dalam bahasan ini akan difokuskan partisipasi masyarakat dalam mewarisi kearifan lokal (daerah) yang secara eksplisit terdapat pada lagu daerah. Karena dalam lagu daerah terkandung pesan moral, kesantunan, juga di dalamnya tecermin penggunaan kosa kata, frasa, idiom, dan kalimat yang dapat diwarisi secara aktif oleh generasi berikutnya. Oleh karena itu, aktualisasi lagu daerah dengan proses intenalisasi dan sosialisasi yang dilakukan secara terus menerus diharapkan dapat mematurasi (memantapkan) komponen bahasa ibu. Partisipasi masyarakat baik secara personal maupun secara kolektif melalui ranah keluarga inti (basic family), masyarakat (community), ranah pendidikan formal mutlak diperlukan untuk menebar nilai positif dalam rangka menghambat laju kematian bahasa ibu.

Pengantar

Bahasa ibu disebut juga bahasa lokal, atau bahasa daerah yang biasanya merupakan manifestasi komunikasi antara ibu (orang tua) dan anak yang memiliki hubungan batin sangat kuat. Hubungan sosial yang paling awal dan sangat penting adalah ketika anak sejak dini mengenal dunia ternyata menggunakan bahasa ibu sebagai media yang tidak bisa diabaikan, ibaratnya mata air yang terus mengalir sepanjang masa (Ibrahim, 1997). Dengan bahasa ibu terbentuklah komunitas bahasa yang saling bisa dipahami oleh anggota pendukungnya.

Akan tetapi, fakta berikut ini dapat mencemaskan dan merisaukan bagi sebagian masyarakat, utamanya yang berkepentingan dengan masalah kebudayaan dan kebahasaan. Betapa tidak akhir-akhir ini diprediksi setiap empat belas hari ada satu bahasa ibu mati di planet bumi ini (Disappearing, 2009). Fakta lain dikemukakan oleh Direktur Direktorat Peninggalan Purbakala kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Junus Satrio Atmodjo, bahwa sebanyak lima belas bahasa ibu terancam punah. Bahasa-bahasa tersebut sebagian besar terdapat di pedalaman kawasan Indonesia Timur seperti Irian (Papua) dan Maluku. Lonceng kematian bahasa ibu ditandai oleh minimnya penggunaan bahasa tersebut dalam pergaulan dan percakapan sehari-hari (Kompas, 2010b).

Berdasarkan fakta tersebut makalah ini yang diberi judul “Partisipasi Masyarakat dalam Mengaktualisasikan Lagu Daerah sebagai Alternatif Pemertahanan Bahasa Ibu” berupaya untuk ikut serta menyampaikan asupan pemikiran sebagai alternatif solusi untuk mencegah percepatan kematian bahasa ibu yang saat ini , 21 Februari 2010, diperingati dengan Seminar Internasional Bahasa Ibu yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Jawa Barat.

PEMAKAIAN BAHASA DALAM CAMPURSARI: SEBUAH TINJAUAN ANTROPOLINGUISTIK

PEMAKAIAN BAHASA DALAM CAMPURSARI:
SEBUAH TINJAUAN ANTROPOLINGUISTIK

 

Oleh Tubiyono1
Foriyani Subiyatningsih2


Abstrak
Campursari merupakan salah satu jenis lagu daerah (lokal) Jawa yang merupakan bagian lagu atau unsur pembentuk kekayaan budaya nasional.Budaya nasional yang terdiri atas keberagaman budaya lokal merupakan sebuah kekuatan jati diri bangsa di dalam percaturan politik, ekonomi, dan budaya internasional. Oleh karena itu, lagu daerah seperti campursari perlu mendapatkan perhatian dalam rangka pendidikan karakter bangsa yang akhir-akhir ini ditengarai mengalami degradasi rasa nasionalisme.Campursari yang merupakan aset lokal yang tak ternilai bagi kemajuan dan bangkitnya rasa nasionalisme keindonesiaan pada masa depan harus dilestarikan sebagai antisipasi ekspansi budaya global yang belum tentu sesuai dengan nilai-nilai dasar keindonesiaan. Untuk itulah tulisan singkat ini akan mencari jawaban atas masalah tanggapan atau respon masyarakat terhadap lagu campursari.

Pengantar
Campursari merupakan lagu daerah yang liriknya menggunakan bahasa Jawa dengan berbagai variasinya (sesuai dengan dialek bahasa Jawa) dan instrumen musik yang digunakan didominasi instrumen musik tradisional Jawa, dikolaborasi dengan instrumen musik modern atau dari instrumen musik daerah lain. Dengan demikian lagu campursari memiliki potensi sebagai pembentuk multikultural, baik melalui ragam bahasa (dialek), jenis musik (keroncong, dangdut, bahkan musik rock), lintas etnik, maupun lintas generasi.

Campursari dapat dikatakan sebagai ciri khas (ikon) budaya Jawa yang ditandai dengan bahasa sebagai mediumnya dan jenis instrumen musiknya (dengan kolaborasi instrumen musik lain yang tetap tunduk pada instrumen tradisional Jawa). Campursari sebagai identitas kedaerahan Jawa merupakan hasil konstruksi diskursi, produksi wacana, dan cara tertentu dalam berbicara tentang lingkungan dunia di sekitarnya (Barker, 2005:14).

Dalam dinamika lagu campursari dipersepsi oleh sebagian penikmat sebagai lagu (musik) kelas menengah ke bawah dan kurang diminati oleh masyarakat kelas menengah atas (elite). Di samping itu, lagu campursari ditengarai lebih diminati oleh generasi tua daripada generasi muda. Untuk itulah, makalah singkat dengan judul “Pemakaian Bahasa dalam Campursari: Sebuah Tinjauan Antropolinguistik“ penting untuk dijadikan inspirasi kecil dalam rangka mencari solusi proses pembangkitan nasionalisme Indonesia melalui pewarisan nilai-nilai positif yang berupa kearifan lokal yang dapat dijadikan cermin bagi generasi muda penerus bangsa. Paparan berikut lebih memfokuskan medium (bahasa) yang dikonstruksi dalam syair (lagu) campursari sebagai evidensi untuk mempertegas bahwa lagu campursari tersebut merupakan manifestasi masyarakat kelas menengah ke bawah. Oleh karena itu, bahasan kebahasaan (linguistik) yang digunakan dalam tulisan ini tidak bisa dilepaskan dalam kehidupan manusia (antropos) dan lingkungannya.

The Competence of Mastering Regional Language, National Language, and Foreign Language for Senior High School Students to Get an Appropriate Job in the Future

The Competence of Mastering Regional Language, National Language, and Foreign Language for Senior High School Students to Get an Appropriate Job in the Future

By Tubiyono and Novi Arianto

Abstrak
Dalam rangka menghadapi kemajuan zaman (globalisasi), pemerintah Indonesia telah membuat keputusan politik dengan menetapkan wajib belajar sembilan tahun. Wajib belajar sembilan tahun tersebut termasuk di dalamnya adalah mempelajari bahasa sesuai dengan kurikulum yang telah digariskan sebagai pedoman bagi guru. Bahasa daerah, bahasa nasional, dan bahasa asing merupakan bahasa-bahasa yang wajib dipelajari di sekolah sehingga siswa harus belajar banyak bahasa. Diharapkan dengan penguasaan banyak bahasa, utamanya bahasa Inggris akan membantu siswa menemukan pekerjaan yang lebih baik di masa depan. Sebaliknya, jika siswa hanya menguasai bahasa daerah atau bahasa nasional maka siswa yang bersangkutan akan sulit berkompetisi dengan pencari kerja lainnya, lebih-lebih harus berkompetisi dengan tenaga kerja dari luar negeri.Namun, belajar bahasa (Inggris) sembilan tahun kualitasnya belum memenuhi harapan banyak pihak. Oleh karena itu, makalah singkat ini berusaha mendeskripsikan problematika yang muncul sebagai refleksi dan sekaligus mencari alternatif solusi yang mungkin dapat diaplikasikan dalam pembelajaran di masa depan.

Read more...

Struktur Semantis Verba dan Aplikasinya pada Struktur Kalimat dalam Bahasa Jawa

Buku "Struktur Semantis Verba dan Aplikasinya pada Struktur Kalimat dalam Bahasa Jawa" merupakan hasil penelitian dari tim Tubiyono dkk. Pada penelitian tersebut didasarkan pada penganalisisan verba dari sudut semantiknya dalam penggunaan bahasa Jawa.

Penelitian mengenai ciri-ciri semantik verba dianggap penting karena mengingat posisinya dalam kalimat merupakan unsur sentral. Artinya, bagaimana bangun sebuah kalimat akan ditentukan oleh verba yang bersangkutan. Nomina apa yang dapat atau tidak dapat hadir dalam kalimat juga ditentukan oleh ciri-ciri semantik verba yang bersangkutan.

Dengan demikian, penelitian mengenai ciri-ciri semantik verba, bagaimana pun, dapat memberikan sumbangan pikiran bagi linguistik, terutama mengenai bahasa Jawa dialek Surabaya khususnya, dan bahasa - bahasa Nusantara pada umumnya. Secara praktis penelitian ini bermanfaat, baik bagi mahasiswa, guru maupun bagi siapa saja yang berminat lebih memahami bahasa Jawa, khususnya mengenai ciri-ciri semantik verbanya.

Profile

Buku

Buku "Struktur Semantis Verba dan Aplikasinya pada Struktur Kalimat dalam Bahasa Jawa" merupakan hasi penelitian dari tim Bapak Tubiyono dkk yang mencoba mengklasifikasikan secara sistematis verba-verba bahasa Jawa berdasarkan ciri-ciri atau struktur semantiknya.