Search :
Tubiyono
Club Bahasa Indonesia

GORO-GORO

 

Goro-goro adalah salah satu episode dalam pementasan wayang kulit (purwa) dalam tradisi budaya Jawa. Garo-goro, kata Pak dalang, ditandai situasi yang chaos (kacau)yaitu serba kontradiksi dandang diuneke kontol, kontol diuneke dandang (yang benar dikatakan salah, yang yang salah dikatakan benar), gunung njebluk (meletus) , segoro umup (laut pasang, gelombang tinggi), banker bandang, dan angin ribut, akibatnya banyak masyarakat yang terkena dampakburuknya. Larang sandang, larang pangan, lan larang papan, (makanan pokok, sandang, dan tempat tinggalmahal), Sireping goro-goro mbarengi jemudhule ponokawan catur (Seamar, Gareng, Petruk, lan Bagong), berhentinya kekacauan bersamaan munculnya rakyat kecil.Keadaan di Tunisia dan di Mesir dapat dijadikan ilustrasi fenomena pada awal tahun 2011.

 

Read more...

TOGOG

TOGOG


Dalam kultur Jawa, utamanya wayang purwa, ada tokoh ponokawan yang bernama Togog. Tokoh Togog ini mudah dikenali karena ada ciri khusus yang melekat pada organ biologisnya yaitu dengan mulut besar (melewati batas kewajaran mulut yang normal). Sebenarnya, nenek moyang dahulu telah memberi peringatan kepada anak cucu (generasi penerus) dengan simbol seperti Togog. Karena itu, Togog dapat dijadikan cermin kehidupan manusia zaman dahulu, sekarang, dan masa depan.

Tokoh ini sebagai pengasuh atau pengawal kesatria yang berkarakter jahat. Oleh karena itu, Togog selalu memberikan kritik dan saran kepada tuannnya untuk meniti jalan yang benar.

Read more...

Cina, Arab, dan Jawa sebagai Legitimasi Bisnis Yang Berbasis Multikultural

Makalah ini dipresentasikan pada Seminar Bahasa Ibu ke-6 di Universitas Udayana, Bali, Indonesia, 22-23 Februari 2013

 
Abstrak

Perusahaan rokok HM Sampoerna yang memproduksi rokok sigaret kretek berlabel Djie Sam Soe didirikan oleh Liem Seng Tee. Dalam proses pendirian dan pengembangan usaha sebagai entrepreneur owner, Liem Seng Tee tetap berpijak pada pandangan yang multikultural. Pandangan ini termanifestasi dalam kemasan rokok sigaret kretek yang mengakomodasi tiga kultur dominan. Tiga kultur dominan itu adalah kultur Cina, Arab, dan Jawa tempat Liem Seng Tee beraktivitas. Kultur-kultur tersebut dijadikan dasar untuk pengembangan bisnisnya. Oleh karena itu, makalah singkat ini berupaya untuk mendesrkipsikan konsep pemikiran Liem Seng Tee sebagai pendiri dan pemilik perusahaan yang mampu mengakomodasi kultur lokal dan kultur global dalam satu produk. Diharapkan adanya deskripsi ini dapat dijadikan inspirasi para generasi muda yang berkeinginan untuk mengembangkan dan mengobarkan motivasi sebagai entrepreneur yang tetap menjunjung tinggi nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh nenek moyangnya.

 

Read more...

KEDAULATAN BAHASA INDONESIA SEBAGAI INSTRUMEN MEMPERKUAT JATI DIRI BANGSA

 

Makalah ini telah dipresentasikan di Universitas Mataram, 5-6 September 2012

Abstrak

Salah satu isi Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 disebutkan bahwa Putra dan Putri Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan Bahasa Indonesia. Pernyataan yang bersifat subjektif itu merupakan salah satu tonggak sejarah yang tidak boleh dilupakan generasi penerus bangsa yang besar yaitu bangsa Indonesia. Hal itu merupakan kristalisasi motivasi yang sangat kuat bagi para pemuda yang sangat cerdas pada zamannya dengan cara menanamkan nilai (value)persatuan untuk menjadi bangsa yang kuat dan bermartabat. Setelah mengalami perjalanan sejarah sampai dengan tahun 2012 ini, bahasa Indonesia mengalami degradasi yang luar biasa, tidak hanya degradasi dalam sikap yang hanya tinggal 1,4 dari skala 5, tetapi juga terjadi degradasi dalam perilaku berbahasa yang termanifestasi –salah satunya- dalam kebijakan pendidikan nasional yang tidak berpihak pada kedaulatan bahasa Indonesia. Tidak adanya kedaultan bahasa ini akan berimplikasi pada eksistensi bahasa Indonesia yang sangat rentan untuk masa depan generasi penerus bangsa. Kerentanan ini mulai tampak pada nilai hasil ujian nasional bahasa Indonesia sebagai faktor penyebab banyak siswa SMA tidak lulus. Dalam makalah ini akan dideskripsikan perlunya kedaulatan bahasa Indonesia agar tidak terasing di negara sendiri. Dengan adanya kedaulatan bahasa Indonesia diharapkan identitas nasionalsebagai jati diri bangsa semakinkuat dan mantap. Selain itu,adanya bahasa Indoensia yang berdaulat akan berimplikasi pada bangsa Indonesiatidak mudah didekte oleh bangsa lain seperti saat ini.

Kata kunci: kedaulatan, identitas nasional, jati diri bangsa

 

Pendahuluan

, , , ,

Bangulah jiwanya bangunlah badannya

Untuk Indonesia Raya

. . . .

Dua baris di atas merupakan penggalan dari lagu kebangsaan Indonesia yaitu Indonesia Raya. Frasa “bangunlah jiwanya” merupakan unsur yang sangat penting untuk memberikan motivasi, semangat,dan berani bermimpi besar sehingga bangsa Indonesia bisa merdeka dan berdaulat. Hal ituperlu dimulai dari sikap mental, jiwa, kemauan, niat yang kuat, dan pantang menyerah terhadap situasi dan kondisi apa pun yang dihadapi.Sikap mental yang positif ini perlu dikonstruksi melalui proposisi-proposisi (word) yang bernilai visioner sehingga dapat dijadikan kompas dalam dinamika perjalanan bangsa Indonesia. Proposisi yang visioner harus melampaui zamannya, berorientasi ke masa depan. Oleh karena itu,ekspektasinya harus tinggi, tidak hanya untuk kebutuhan sendiri, tetapi untuk kebutuhan yang lebih luas.

 

Membangun jiwa, sikap mental, niat, mimpi, atau punmotivasi itu sangat penting. Akan tetapi, hal itu tidak berarti apa-apa kalau tidak ada perilaku atau tindakan (action) nyata yang menggunakaninstrumen ketubuhan (fisik).Penggalan lagu di atas sangat tepat setelah frasa “bangunlah jiwanya” diikuti frasa “bangunlah badannya”. Dengan kata lain word harus ditransformasikan menjai action agar memiliki nilai tambah bagi drinya dan orang lain. Adanya nilai tambah bagi orang lain merupakan salah satu indikator personal yang baik karena perilakunya tidak hanya untuk kepentingan pribadinya, tetapi kepentingan bangsa seperti frasa “untuk Indonesia Raya”.

Read more...

Profile

Buku

Buku "Struktur Semantis Verba dan Aplikasinya pada Struktur Kalimat dalam Bahasa Jawa" merupakan hasi penelitian dari tim Bapak Tubiyono dkk yang mencoba mengklasifikasikan secara sistematis verba-verba bahasa Jawa berdasarkan ciri-ciri atau struktur semantiknya.