Search :
Tubiyono
Club Bahasa Indonesia

KONSTRUKSI SDM BERKARAKTER

KONSTRUKSI SDM BERKARAKTER NILAI-NILAI  YANG TERDAPAT PADA EXPOSE POSTER DI PPKK UNIVERSITAS AIRLANGGA

Makalah ini dipresentasikan pada Seminar nasional di Universitas Sarjana Wiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta, 21 Januari 2012, oleh Tubiyono, FIB Universitas Airlangga.

Abstrak

 

Sumber daya manusia (SDM) yang berkarakter sangat diperlukan bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan berbudaya untuk masa depan. Masa depan sangat dipengaruhi bahkan ditentukan oleh perilaku (etiquette) sebagai manifestasi nilai (value) yang dipahami saat ini. Sedangkan perilaku itu sendiri bukanlah suatu yang instan, melainkan suatu keadaan yang sangat relatif karena tergantung dinamika yang bersifat antropologis berkaitan dengan nilai-nilai kolektif dan berkolaborasi masalah ekonomi, politik, sosial, kultural, dan masalah lainnya. Dengan demikian, SDM berkarakter yang berorientasi nilai positif masa depan seperti yang termanifestasi dalam expose poster di PPKK Universitas Airlangga dapat dijadikan salah satu alternatif konstruksi SDM yang diinginkan. Dalam makalah ini, akan dideskripsikan jenis karakter positif SDM yang dibutuhkan untuk mengisi kesempatan atau peluang kerja di perusahaan masa depan sehingga dapat memberikan alternatif solusi dalam menghadapi ledakan jumlah penduduk yang terus bertambah. Selain itu, deskripsi dalam makalah ini dapat memberikan inspirasi bagi SDM masa depan yang ingin menciptakan peluang kerja (job creator).

Read more...

Kurikulum Bahasa Indonesia Ditinjau

 

 

“Materi Ajar Kurikulum Bahasa Indonesia Ditinjau” demikian sebuah judul dalam Kompas halaman 12, yang terbit Kamis, 26 Desember 2011. Masalah itu mengemuka sebagai dampak hasil UN untuk mata pelajaran bahasa Indonesia ternyata banyak yang tidak lulus yaitu sekitar 38,43 %.

Read more...

DZUAFA DAN DAMPAKNYA BAGI NEGARA

Surabaya, (2/9/2021): Dzuafa" berasal dari kata bahasa Arab yang berarti "lemah". Dengan istilah lain, dzuafa adalah komunitas yang memiliki ciri-ciri secara fisik dan sosial berbeda dengan komunitas lainnya. 

Secara fisik, dzuafa ditandai adanya "keringkihan" fisik karena dimakan usia atau yang disebut "fakir" atau "pekir".

Ada pula yang ditandai dengan usia yang masih sangat dini atau belum "baligh" atau nalar pikir belum memadai dan tidak ada orang tua (karena sudah meninggal). Hal itu yang biasa disebut anak yatim (piatu). Apalagi masa pandemi dapat diprediksi akan semakin membengkak jumlah anak yatim.

Berdasarkan tempat tinggal, dzuafa berada di mana-mana di pedesaan dan sebagian di perkotaan. Biasanya penguasaan lahan terbatas. Apalagi di perkotaan banyak urban yang tinggal di perkotaan dengan sistem kontrak kamar (rumah) tinggal. Di samping itu, lingkungan kurang kondusif, berhimpitan sehingga kurang nyaman. 

Secara sosial, komunitas dzuafa berpendidikan rendah, menengah, atau bahkan tidak sekolah. 

Selain itu, mata pencaharian atau pekerjaan infornal sebagai buruh "srabotan" dengan penghasilan tidak pasti (kadang tidak cukup). Hal seperti ini dapat dikatakan dzuafa kategori miskin. Akses ekonomi mereka sangat terbatas dan sulit untuk bangkit. 

Kondisi dzuafa seperti inilah yang akan menjadi beban keluarga, masyarakat, dan negara. Semoga ada solusi untuk memberdayakan sebagian komunitas dzuafa yaitu komunitas yang kurang beruntung secara ekonomi. 

Terkait dengan komunitas dzuafa ditambah lagi masalah pandemi covid-19 sangat potensial menimbulkan kesenjangan ekonomi seperti kurva "K". Artinya, pertumbuhan ekonomi negara bisa bercabang dua arah yang saling menegasikan, yang satu tumbuh cepat (semakin kaya/kuat) yang lainnya tumbuh negatif tersungkur ( semakin miskin). Oleh karena itu, "Kompas" (1/9/2021) menurunkan tulisan untuk 'Mewaspadai Kesenjangan Akibat Pandemi' yang belum selesai ini. 

Dengan memperhatikan fakta yang sedang berproses seperti itu, diharapkan negara bisa mengartikulasikan kebijakan supaya bisa mengurangi dzuafa, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan sumber daya manusia (SDM), dan melaksanakan transformasi ekonomi. (Tubiyono)

MENCARI RIDHA ALLAH SWT MELALUI BERBAGI KEPADA SESAMA

Mencari ridha Allah SWT adalah motivasi setiap orang yang beriman dengan melalui berbagai instrumen atau pun wasilah supaya bisa takarub kepada-Nya.

Salah satu sarana untuk mendapatkan ridha-Nya adalah dengan berbagi (sedekah atau infak) yang berupa makanan kepada fakir-miskin. Hal yang demikian merupakan salah satu tanda orang yang tidak mendustakan agama (Islam). Karena salah satu indikator pendusta agama adalah tidak mau menganjurkan atau mengajak untuk memberi makanan kepada orang-orang miskin (QS, 107:3). Akan tetapi, untuk internalisasi (pengenalan ide),  sosialisasi,  dan enkulturasi (pembudayaan) sangat tidak mudah. Mengapa demikian? Ada dua alasan untuk itu (1)   kadang ada yang mengatakan "ria'" atau pamer. Padahal tidak demikian, prinsipnya "woting ati" yaitu "krenteg" atau niatnya adalah untuk memotivasi di luar diri sendiri untuk mengajak hal yang baik (amar makruf). 

Alasan (2) setiap orang memiliki dasar iman yang berbeda-beda kualitas (tebal/tipis), berbeda cara pandang atau cara berpikir, dan berbeda pula dalam hal "rasa". Dalam kitab suci pesan secara dominan menggunakan "rasa sejati" yang setiap orang belum tentu paham sampai pada tataran hakikat dan makrifat. 

Terkait dengan hal itu, kita tidak perlu ragu/khawatir dalam melaksanakan kebaikan dengan sosialisasi, pasti ada yang berpandangan positif dan negatif. Sebaiknya kita mengedepankan "positive thinking" bukan sebaliknya "negative thinking" atau "suudzon". Padahal "suudzon" adalah cenderung ke arah salah (dosa).

Berbagi kebahagian  kepada orang fakir-miskin memang dianjurkan Allah SWT sebagai bentuk syukur kepada-Nya yang telah memberi kecukupan yang awalnya memang serba kekurangan "limited" secara ekonomi (QS, 93:8).

Sebagai implementasi itu semua, kami mencoba menyelenggarakan konsep "Jumat Berkah". Awalnya, konsep secara individual kemudian diikuti orang di sekitar, dan terus tersosialisasi dengan sendirinya semakin lama semakin tampak "membesar" ibarat ide tersebut "bola salju". 

Bagaikan gayung bersambut konsep tersebut sudah mulai menjadi "enkurturasi" membudaya untuk membantu fakir-miskin.

Konsep "Jumat Berkah" kami artikulasikan bukan dalam bentuk makanan jadi, tetapi dalam bentuk bahan mentah yang siap dimasak pada pagi hari yaitu berupa sayur-mayur, bumbu, lauk-pauk, dan indomie goreng. Bahan tersebut senilai kurang lebih Rp 20.000,00. 

Sebagian orang ada yang berpartisipasi membantu dalam bentuk uang berapa pun tidak dibatasi. Ada yang menyerahkan langsung dan ada pula yang meminta transfer melaui bank. 

Alhamdulillah, apabila telah datang pertolongan Allah SWT, maka banyak orang yang berpartisipasi untuk bersama-sama membantu (agama Allah) sesama yang kebetulan kurang beruntung secara ekonomi (QS, 107:1-2). Tubiyono.

Profile

Buku

Buku "Struktur Semantis Verba dan Aplikasinya pada Struktur Kalimat dalam Bahasa Jawa" merupakan hasi penelitian dari tim Bapak Tubiyono dkk yang mencoba mengklasifikasikan secara sistematis verba-verba bahasa Jawa berdasarkan ciri-ciri atau struktur semantiknya.