Search :
Tubiyono
Club Bahasa Indonesia

GORO-GORO

 

Goro-goro adalah salah satu episode dalam pementasan wayang kulit (purwa) dalam tradisi budaya Jawa. Garo-goro, kata Pak dalang, ditandai situasi yang chaos (kacau)yaitu serba kontradiksi dandang diuneke kontol, kontol diuneke dandang (yang benar dikatakan salah, yang yang salah dikatakan benar), gunung njebluk (meletus) , segoro umup (laut pasang, gelombang tinggi), banker bandang, dan angin ribut, akibatnya banyak masyarakat yang terkena dampakburuknya. Larang sandang, larang pangan, lan larang papan, (makanan pokok, sandang, dan tempat tinggalmahal), Sireping goro-goro mbarengi jemudhule ponokawan catur (Seamar, Gareng, Petruk, lan Bagong), berhentinya kekacauan bersamaan munculnya rakyat kecil.Keadaan di Tunisia dan di Mesir dapat dijadikan ilustrasi fenomena pada awal tahun 2011.

 

Read more...

TOGOG

TOGOG


Dalam kultur Jawa, utamanya wayang purwa, ada tokoh ponokawan yang bernama Togog. Tokoh Togog ini mudah dikenali karena ada ciri khusus yang melekat pada organ biologisnya yaitu dengan mulut besar (melewati batas kewajaran mulut yang normal). Sebenarnya, nenek moyang dahulu telah memberi peringatan kepada anak cucu (generasi penerus) dengan simbol seperti Togog. Karena itu, Togog dapat dijadikan cermin kehidupan manusia zaman dahulu, sekarang, dan masa depan.

Tokoh ini sebagai pengasuh atau pengawal kesatria yang berkarakter jahat. Oleh karena itu, Togog selalu memberikan kritik dan saran kepada tuannnya untuk meniti jalan yang benar.

Read more...

Profile

Buku

Buku "Struktur Semantis Verba dan Aplikasinya pada Struktur Kalimat dalam Bahasa Jawa" merupakan hasi penelitian dari tim Bapak Tubiyono dkk yang mencoba mengklasifikasikan secara sistematis verba-verba bahasa Jawa berdasarkan ciri-ciri atau struktur semantiknya.