Apa itu “gemoy” dan “Wakanda”? Sebagian orang awam bertanya-tanya, ada yang diekspresikan ada juga yang dibatin saja.  Karena dua kata tersebut tidak familiar dalam kehidupan sehari-hari.
Kata tersebut mencuat ketika secara organik digunakan pendukung paslon Prabowo Gibran dari kalanagan anak muda. Anak-anak muda  memberikan karakter “ lucu”  atau “gemas” paslon tersebut.
“Gemoy“ termasuk sebuah kata (bahasa) gaul yang sering digunakan anak muda milenial atau  generasi Z. Kata tersebut mengacu suatu hal yang “lucu” dan “gemas”.
Secara linguistik  berasal dari kata “gemas” mendapat sufiks “-oy” menjadi “gemoy”. Hal itu dapat dianalogikan pembentukan kata “asik” menjadi “asoy”.
Sedangkan kata “Wakanda” ketika digunakan  Anies R. Baswedan dalam debat capres 12 Oktober 2023. Selain itu, dijadikan slogan dalam kampanye pilpres “wakanda no more, Indoneisa forever”.  Kata  “Wakanda” tersebut juga termasuk bahasa gaul sering digunakan  dalam media sosial oleh netizen.
Pembentukan kata atau istilah “wakanda” tidak sama dengan “gemoy”.  Akan tetapi, “Wakanda” diambil  dari judul  film fiksi “Black Panther Wakanda Forever”. Istilah tersebut dapat memiliki simbol yang dapat diartikan secara lebih luas. Misalnya, untuk menggambarkan harapan dan Impian kehidupan rakyat yang lebih baik atau ideal.
Kehidupann yang lebih baik dapat ditandai dengana adanya kemakmuran yang merata, keadilan untuk semua, adanya kesetaraan, tidak ada rasa takut untuk berekspresi, pemanfaatan teknoloi tinggi. Intinya adalah negara yang ideal. “negara tata tentrem tata raharjo subur makmur loh jinawi, subur kang sarwo tinandur, murah kang sarwo tinuku”.  (Tubiyono)