Kata “jahiliah” proses pembentukannya senada dengan kata “ilmiah, duniawiah, ukhrowiah, alamiah, diniah, qomariah, syamsiah”, dan lain-lain. Sejumlah kata tersebut ada komponen akhir yang selalu berulang yaitu -iah sehingga membentuk pola tertentu.
Pola itu berupa sufiks atau akhiran -iah. Akhiran -iah sebagai salah satu penanda jenis kata ajektiva (sifat). Jadi, “jahiliah” memiliki makna ‘sifat kebodohan’. Secara historis, merujuk kondisi bangsa Arab pada pereode pra-Islam. Kondisi yang diliputi sifat atau karakter kebodohan tentang Allah, Rasul-Nya, syariat agama, berbangga-bangga dengan nasab, kesombongan, dan penyimpangan lainnya.

Pertanyaannya adalah apakah kata “jahiliah” hanya sebagai label masyarakat zaman pra-Islam? Zaman global sekarang apakah tidak ada “jahiliah”? Jika diperhatikan dari aspek makna semantik kebahasaan, istilah, dan historis sifat kebodohan atau “jahiliah” bisa melekat baik secara personal maupun badan/lembaga tidak hanya pereode pra-Islam, tetapi sampai sekaran. Karakter “jahiliah” atau sifat kebodohan akan selalu mengiringi dinamika kehidupan manusia.

Pada prinsipnya, “jahiliah” adalah kata untuk seluruh perkara yang bertentangan dengan kebenaran (ajaran Islam), baik pelanggaran besar yang berakibat kekafiran maupun pelanggaran kecil yang tidak berakibat kekafiran. Semuanya dikatakan jahiliah karena seluruh pelanggaran atau perkara yang bertentangan dengan kebenaran tidak mungkin bersumber dari ilmu pengetahuan, tetapi dari kaarakter kebodohan. Baik pelanggaran itu disebabkan ketidaktahuan maupun karena dominasi hawa nafsu yang mengalahkan dorongan keimanan dan kebenaran berdasarkan ilmu pengetahuan (https://muslim.or.id/).

Jadi, berdasarkan deskripsi di atas karakter atau sifat “jahiliah” (kebodohan) masih relevan, aktual, dan kontekstual pada zaman sekarang. Hal ini bisa diperhatikan adanya keanehan dalam berbagai kehidupan sosial, politik, ekonomi, pendidikan, dan kebudayaan. Dominasi hawa nafsu untuk politik (kekuasaan) dan ekonomi (harta/kekayaan) bisa membutakan mata hati yang mendorong perilaku negatif. (Tubiyono)