Surabaya, 5/8/26. Fungsi dominan rumah adalah tempat tinggal untuk perlindungan fisik dari panas, hujan, angin, dan bahaya eksternal lainnya. Sebagai orang tua berkewajiban melindungi anggota keluarga utamanya anak yang sedang masa pertumbuhan psikis dan fisik. Okeh karena itu sebagai leader wajib melindungi diri sendiri dan anggota keluarga (QS, At Tahrim: 6) 
Selain itu, rumah sebagai edukasi kultural keluaga inti, tempat pemulihan tenaga pascakerja, dan sarana aktivitas harian lainnya.
Secara historis tradisional, nenek moyang membangun rumah ukuran luas untuk menampung keluarga besar. Oleh karena itu, ada ungkapan, “mangan Ora mangan sing penting ngumpul” bermakna gotong royong saling bantu sebagai ikatan kerabat yang kuat.
Kini, bagi generasi Z ungkapan itu bergeser menjadi “kumpul ora kumpul sing penting mangan”. Dalam hal ini yang dipentingkan masalah ekonomi finansial supaya tidak membebani orang tua. Dampak pergeseran ungkapan yang mendasari filosofi jawa ini sangat jelas dapat diamati dari perilaku memilih rumah untuk tempat tinggal keluarga.
Generasi Z memilih dan membangun rumah minimalis modern dengan pertimbangan lebih pragmatik, efektif, dan efisien. Dari aspek ini sediaan rumah tipe sederhana dan menengah menjadi alternatif pilihan masyarakat perkotaan.
Surabaya sebagai salah satu kota besar Indonesia menjadi tujuan urbanisasi, maka kebutuhan lahan sangat tinggi. Terkait dengan hal itu, pembangunan tempat tinggal cenderung vertikal seperti tinggal di apartemen. Alternatif lain mencari properti, rumah, di daerah penyangga Surabaya adalah Sidoarjo dan Gresik yang menawarkan rumah tapak lebih terjangkau/murah. (Yono, Konig Properti)