Salah nalar atau “logical fallacy” perlu dipahami dengan sungguh-sungguh utamanya oleh mahasiswa sebagai ujung tombak perubahan menuju keadaan yang lebih baik.  Begitu pula  bagi masyarakat pada umumnya yang merindukan perbaikan kualitas hidupnya.
Mengapa bisa terjadi salah nalar? Ada dua kemungkinan  terjadinya salah nalar. Pertama, karena kemampuan intelektual terbatas sehingga tidak sadar, tidak sengaja  menggunakan “logical fallacy”. Kedua, adanya kesadaran atau kesengajaan untuk rasionalisasi atau pembenaran atas suatu hal. Hal ini bukan berarti intelektualnya rendah, melainkan memiliki intelektual tinggi. Biasanya teknik ini digunakan dalam forum debat sehingga pihak lawan akan kehilangan fokus yang sedang dibicarakan.
Risiko salah nalar adalah masyarakat terhambat untuk memperoleh kebenaran substansial. Keterbatasan berargumentasi dan keterbatasan berpikir kritis dapat menjadi perangkap masyarakat dimanipulasi  dengan memutarbalikkan fakta. Oleh karena itu, mahasiswa sebagai calon intelektual muda masa depan harus kompeten membedakan argumen yang tidak berguna dengan argumen yang benar-benar logis/masuk akal.
Lain daripada itu, adanya pemahaman salah nalar, “logical fallacy”, kita memiliki penalaran logis dapat mengidentifikasi mana ajakan buruk atau mana ajakan baik ketika sedang dipersuasi pihak lain. Kita sangat berharap masyarakat dapat berpikir kritis berargumen logis dan dapat menghasilkan s olusi terbaik.  (Tubiyono, 14/2/24)