Surabaya —  Mahasiswa angkatan 2023/2024 termasuk generasi yang sangat akrab dengan alat ektronik untuk berkomunikasi. Adanya alat ektronik canggih ini Gen Z sering mengalami kesalahan dalam pengambilan keputusan. Kesalahan pengambilan keputusan ini disebabkan oleh rendahnya pemanfaatan logika berpikir kritis, tetapi lebih mengutamakan emosi atau perasaan.
 
Salah satu dampak lemahnya berpikir kritis adalah”impulsive buying”. Yang dimaksud ”impulsive buying” ialah keinginan seseorang membeli produk dalam jumlah banyak secara spontan tanpa pertimbangan dengan berpikir kritis. Hal ini terjadi karena sesorang lebih memanjakan keinginan (nafsu) daripada kebutuhan berdasarkan logika pemikiran kritis.
 
Terkait dengan hal itu, supaya mahasiswa tidak terjebak ”impulsive buying” yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan finansial pada masa depan (dewasa/tua) dan ahli warisnya. Oleh karena itu, sebagai respon adanya ”impulsive buying” adalah berlatih secara konsisten berinvestasi. Dengan investasi sejak dini (mahasiswa/Gen Z), kehidupan masa depan lebih terjamin kesejahteraan dan kesehatan finansialnya.
 
Dampak kebiasaan ”impulsive buying”, seseorang menjadi pemboros sehingga seperti peribahasa “besar pasak daripada tiang”. Selain itu, rumahnya menjadi “gudang” tumpukan barang bekas. Jika pemegang kartu kredit ada kemungkinan terjadi kemacetan finansial dan ada kesulitan dalam pembuatan perencanaan finansial masa depan.
 
Sebaliknya, kebiasaan investasi seseorang akan terhindar dari inflasi. Dengan investasi dapat menciptakan/meningkatkan  nilai mata uang, bukan hanya tabungan, melainkan investasi yang lebih produktif sehingga dapat menambah penghasilan produktif dan progresif (profit ganda). Dengan demikian masa depan terjamin, memasuki masa tua (pensiun) tidak menjadi masalah karena telah memiliki kebebasan finansial secara bertanggung jawab. (Tubiyono, 7/3/24))