Bahasa sebagai sarana komunikasi memiliki tujuh fungsi yaitu instrumental, regulatori, interaksional, personal, heuristik, imajinatif, dan informatif (Halliday). Jadi, eksistensi bahasa memiliki beban makna yang kompleks baik yang secara langsung (eksplisit) maupun secara tersembunyi (implisit). Lebih lanjut bahasa sekunder (bahasa tulis) biasanya sudah lebih matang, lebih tepat, dan lebih bisa dipertannggungjawabkan daripada bahasa lisan. Tidak terkecuali bentuk bahasa kartun yang berjudul Sukribo pilihan Kompas Minggu. Ibaratnya tokoh Sukribo ini adalah manusia super serba tahu persoalan yang dihadapi masyarakat, budaya, dan pemerintah. Dengan kata lain kartun ini, Sukribo, sebagai instrumen atau corong baik personal maupun lembaga.

Kartun Sukribo ini juga dapat dipahami adanya nilai atau fungsi edukasi, pemikiran, pengendali, dan kadang mengandung kritik internal dan eksternal. Ketika persoalan sosial masyarakat, budaya, dan negara begitu kuat menyasar kehidupan orang banyak, maka lewat Sukribo persoalan itu coba diangkat ke permukaan dengan menggunakan bahasa gaul. Tema yang dipilih dalam kartun ini kontekstual dan kekinian sehingga sangat akrab dengan pembaca, khususnya, pembaca Kompas. Sebagai ilustrasi saat Presiden Joko Widodo mengritik lembaga negara yang membeli produk impor. Sukribo edisi 27 Maret 2022 diberi judul Mari Membeli Produk Lokal dan diikuti dialog yang santai tanpa beban dengan menggunakan permainan bahasa yang bernuasa kritik. Pembaca diajak berimajinasi adanya harga minyak dan harga gula yang tinggi karena produk impor. Meskipun Sukribo sarat kritik, tetapi tidak  memantik emosional.

 Hal yang membedakan dengan jenis tulisan lainnya dengan kartun Sukribo bahasa. Bahasa yang digunakan adalah bahasa gaul bahasa sehari-hari tidak formal. Penggunaan  bahasa informal ini merupakan pengembangan dari hal yang sifatnya resmi dan baku. Oleh karena itu, kartun Sukribo  lebih banyak mengajak pembaca dalam situasi santai tidak perlu berpikir terlalu berat dan kadang disela dengan tertawa lepas.
Sukribo sebagai Ikon yang Serba Tahu

Tokoh Sukribo ini secara ikonik sesuai dengan keadaan yang sebenarnya yang melekat pada ciri rambut ikal lebat atau kribo sehingga dipakai sebagai kata sapaan atau panggilan. Hal demikian, sudah menjadi lazim dalam masyarakat budaya Jawa atau pun masyarakat etnis lainnya dengan memberi label nama sesuai dengan karakter, ciri fisik, atau pekerjaan, dan lain-lainnya. Bahkan dapat dimaknai secara simbolik, dapat dilihat pada deskripsi pilihan tema, yang merupakan bagian tidak terpisahkan dalam tulisan ini. Dapat dikatakan tokoh ini tokoh imajinatif yang serba tahu tentang seluk-beluk kehidupan sosial, budaya, dan negara/pemerintah.

Persoalan-persoalan dominan yang dihadapi bangsa dan negara dicoba diderivasikan dengan mengeksplor kekayaan bahasa supaya dapat merambah kepada masyarakat luas yang lebih komrehensif yang berpespektif sosiokultural sehingga tidak hanya menjadi milik sekelompok elit bangsa dan negara. Akan tetapi, persoalan yang dihadapi oleh bangsa dan negara ini mengalami proses difusi ke seluruh lapisan masyarakat. Dengan demikian, masyarakat bukan hanya sebagai penonton “teater nasional”, melainkan bisa ikut partisipasi aktif dan tumbuh kesadaran dalam menghadapi persolan bangsa dan negara. Oleh karena itu, rincian-rincian penggunaan bahasa, utamanya diksi, tema atau topik pembicaraan, media, dan setting penggunaanya penting untuk diperhatikan atau dikenal dengan details of language yang dikemukakan oleh Hymes.

Tema kartun Sukribo sangat kontekstual. Kartun tersebut tiap edisi memiliki tema berbeda tidak ada narasi bersambung. Jadi, tergantung situasi dan kondisi saat persoalan itu sedang hangat diperbincangkan masyarakat atau sedang mengalami trending topic. (Tubiyono, 14/2/24)